Comparing looks, social status, material items, even relationships. WHY?
Setiap orang punya keindahan dunia nya masing-masing, kadang gua suka mikir enak yaa punya temen-temen yang mau di ajak sharing bareng kaya gitu, sharing tentang kehidupan yang banyak kenikmatan dan kadang masih ngeluh ini, kenapa ada keluarga yang sebegitunya, kenapa gua ga bisa kaya yang lain, bisa olahraga rutin, bisa jalan kesana kemari, ngabisin waktu bareng temen-temen, but they are not everyday to be feel it, sometimes you have that too.
Allah lebih tau kesenangan apa yang sesuai dengan diri kita, bukan berarti lo ga pantes buat kesenangan itu, tapi memang bukan itu mungkin yang akan membuat lo senang.
Dan sedikit sharing, bahkan gua juga pernah sampe berusaha menargetkan diri gua supaya bisa kaya temen-temen gua, memaksa diri ini, sampe kadang ga sadar diri ini stress dan merasa lelah.
Alasan paling jelas, kenapa kita punya perasaan seperti itu adalah saat itu kita sedang membandingkan diri kita dengan orang lain, atau kalo dalam istilah psikologi itu social comparison yaitu suatu proses dimana seseorang membandingkan kemampuan, pendapat atau sifatnya dengan orang lain. Membandingkan diri adalah ciri yang paling umum dalam kehidupan sosial manusia. This fundamental human tendency to look to others for information about how to think, feel, and behave has provided us with the ability to thrive in a highly complex and interconnected modern social world. So, membandingkan diri itu bisa menjadikan kita berkembang di dunia sosial sebenernya, dan ternyata ada dua jenis social comparison nih gengs, ada upward dan ada downward. Kalo upward, saat kita membandingkan diri dengan orang yang kita rasa lebih baik dari kita, jadi supaya kita terinspirasi gitu, kalo downward itu saat kita membandingkan diri dengan orang lain yang kita rasa lebih buruk dari kita.
--
Tapi tetep kita harus perhatikan nih, apakah comparison itu good or bad. Itu semua tergantung kita yaa sebenernya. Saat kita berlebihan upward social comparison, yang akhirnya membuat kita memandang diri sendiri inferior dan ada kemungkinan timbul emosi-emosi negatif yang bisa memicu stress or depresi, atau saat kita berlebihan downward juga bisa menjadikan kita tidak bahagia karena kita mengetahui faktanya, bahwa sebuah kondisi atau situasi itu bisa berubah kapan pun menjadi sesuatu yang lebih buruk, keduanya itu jelas bad yaa.
Nah yang good itu saat kita menjadikan comparison itu sebuah pembelajaran. Upward bisa menjadikan kita terinspirasi dan dengan downward kita bisa lebih bersyukur.
Jadi melakukan comparison itu gapapa sebenernya, cuma yang salah itu saat kita berlebihan dan sampai membuat diri sendiri stress, insecure, atau bahkan depresi.
--
In fact, adults face many of the same social comparison pressures as teens
But, its okay, semua orang itu unik, semua sudah Allah atur. Ada beberapa cara juga supaya kita bisa mengurangi social comparison, pertama yuk bersyukur dan menerima diri sendiri, berapa banyak nikmat yang udah Allah kasih ke kita? Jelas ga keitung yaa, mulai dari masih bisa napas dan mikir hehe, kedua kembangkan altruisme, karena berbuat baik untuk orang lain juga akan menguntungkan kita loh, ketiga find role models, bisa siapa aja yang jelas yaa, karena If you’re working to keep up with role models, you can gain the benefits of their success (personal motivation, seeing what works for them, etc.), keempat kita bisa mulai menyibukan diri sendiri dengan apa yang kita senangi, mulai aja dulu, sambil belajar, jangan takut akan pendapat orang, emang kita hidup karena pendapat orang? Engga kan?
Terakhir jan lupa ibadah, zikir dan solawatnya yaa :D
--
*sungguh gua juga masih tahap belajar yaa gengs, yuk belajar bareng. Feel free kalo mau komen dan kasih feedback, tengkyuu
Sumber bacaan:
Baldwin, M. and Mussweiler, T., 2018. The culture of social comparison. Proceedings of the National Academy of Sciences, 115(39), pp.E9067-E9074. DOI: 10.1073/pnas.1721555115. From https://www.pnas.org/content/115/39/E9067/tab-figures-data
Creator. 2020. Social comparison. Psychology.binus.ac.id. Publish on 14 May 2020. From https://psychology.binus.ac.id/2020/05/14/social-comparison/
Scott, Elizabeth. 2020. The Stress of Social Comparison. Verywellmind.com. Updated on November 26, 2020. From https://www.verywellmind.com/the-stress-of-social-comparison-4154076
Swari, Risky Candra. 2020. Kenapa Kita Sering Membandingkan Diri Dengan Orang Lain di Media Sosial?. Updated on August 3, 2020. From https://hellosehat.com/mental/stres/penyebab-membandingkan-diri-dengan-orang-lain/#gref
Masya Allah, tulisannya nambah ilmu banget meh suer :'((
ReplyDeleteMakasiihh Raas :)) semoga bermanfaat yaa
DeleteJazakillah khayr atas Insight barunya teruslah menulis, jangan berhenti berkarya, saya suka tulisan kamu..
ReplyDelete