ketika memaafkan
Menerima apa yang sedang terjadi
Memaafkan bukanlah sekedar bersikap pasrah tanpa daya menerima begitu saja apa yang terjadi pada diri Anda. Memaafkan bukanlah sikap pasif dan menempatkan diri Anda sebagai objek penderita atas suatu kejadian. Benar, bahwa untuk memaafkan perlu ada sikap menerima atas yang terjadi. Akan tetapi menerima kenyataan tanpa mendapat pemahaman yang lengkap, tentu saja menjadi konyol.
Melupakan
Seringkali menjadi bumbu pembicaraan bahwa memaafkan sama dengan melupakan. Kajian psikologi ingatan menunjukkan bahwa melupakan adalah sama dengan mengingat. Bedanya, ketika melupakan seseorang berusaha menyimpan dan menyembunyikan ingatan hal-hal yang tidak ingin disadarinya.
Hal yang menarik adalah: peristiwa dan emosi mempunyai kaitan erat. Semakin tinggi intensitas emosi sebuah peristiwa, semakin mudah peristiwa itu ditarik dari bank ingatan dan muncul ke dalam kesadaran.
Peristiwa-peristiwa yang dipersepsikan tidak nyaman itu boleh jadi berusaha disimpan untuk dilupakan,akan tetapi emosi tidak nyaman, kemarahan, atau dendam, malahan membuatnya jadi mudah diingat. Memaafkan bukanlah untuk melupakan peristiwa Memaafkan adalah saat seseorang tetap mengingat peristiwa yang dialaminya, dan pada saat yang sama ia terbebas dari emosi2 yang tidak nyaman berupa kemarahan, kekesalan, dan dendam.
Sumber:
Asep Haerul Gani, Forgiveness therapy. 2011. Yogyakarta. Kanisius
Memaafkan bukanlah sekedar bersikap pasrah tanpa daya menerima begitu saja apa yang terjadi pada diri Anda. Memaafkan bukanlah sikap pasif dan menempatkan diri Anda sebagai objek penderita atas suatu kejadian. Benar, bahwa untuk memaafkan perlu ada sikap menerima atas yang terjadi. Akan tetapi menerima kenyataan tanpa mendapat pemahaman yang lengkap, tentu saja menjadi konyol.
Melupakan
Seringkali menjadi bumbu pembicaraan bahwa memaafkan sama dengan melupakan. Kajian psikologi ingatan menunjukkan bahwa melupakan adalah sama dengan mengingat. Bedanya, ketika melupakan seseorang berusaha menyimpan dan menyembunyikan ingatan hal-hal yang tidak ingin disadarinya.
Hal yang menarik adalah: peristiwa dan emosi mempunyai kaitan erat. Semakin tinggi intensitas emosi sebuah peristiwa, semakin mudah peristiwa itu ditarik dari bank ingatan dan muncul ke dalam kesadaran.
Peristiwa-peristiwa yang dipersepsikan tidak nyaman itu boleh jadi berusaha disimpan untuk dilupakan,akan tetapi emosi tidak nyaman, kemarahan, atau dendam, malahan membuatnya jadi mudah diingat. Memaafkan bukanlah untuk melupakan peristiwa Memaafkan adalah saat seseorang tetap mengingat peristiwa yang dialaminya, dan pada saat yang sama ia terbebas dari emosi2 yang tidak nyaman berupa kemarahan, kekesalan, dan dendam.
Sumber:
Asep Haerul Gani, Forgiveness therapy. 2011. Yogyakarta. Kanisius
Comments
Post a Comment